Penyebab Generasi Milenial tidak Bisa Bebas dari Budaya Konsumtif

0 82

Budaya modern telah banyak memangkas sikap kesederhanaan para generasi milenial. Para remaja masa kini memang jauh lebih kreatif juga sangat berani mengambil resiko. Disisi lain juga, para milenial sangat menyukai budaya konsumtif demi menunjang penampilan. Istilah barunya adalah gaya hidup urban, yaitu menganut tren mewah meskipun kantong pas-pasan.

Masyarakan milenial tidak hanya tertuju pada remaja di bawah usia 20 tahun, tetapi juga usia dewasa muda. Menurut hasil survei, mereka yang sangat rentan melakukan praktek konsumtif berada direntan usia 17-40 tahun. Sehingga dampak yang ditimbulkan oleh sikap konsumtif bagi remaja dan dewasa itu cukup banyak.

Kamu mungkin tidak bisa menolak untuk menghindari komunitas sosial. Akan tetapi kamu bisa memilih komunitas mana yang dapat dicontoh, agar tidak berlebih-lebihan dalam hal berpenampilan. Budaya konsumtif bisa saja memaksamu terobsesi untuk membeli sesuatu bukan karena kebutuhan. Ujungnya, sifat konsumtif dapat menghancurkan segalanya bila kamu tidak dapat menahan diri.

Terlepas dari dampak generasi milenial menyukai budaya konsumtif, ada alasan mengapa mereka terjebak dengan kondisi tersebut. Secara tidak sadar mungkin kamu juga termasuk generasi masa kini yang senang akan hal-hal berbau duniawi misalnya menghabiskan uang dengan belanja. Oleh sebab itu, kemungkinan bebera penyebab ini adalah alasan dibalik budaya konsumtifmu.

Pemakaian Gawai yang Terlalu Sering

Dalam budaya modern, gawai atau istilah modernnya gadget sudah sangat melekat dari kehidupan masyarakatnya. Kamu akan sulit lepas dari pengaruh gadget. Ditambah lagi adanya internet yang sudah menjadi kebutuhan hidup. Bukan cuma sekedar alat komunikasi, internet sudah semakin maju penggunaannya misalnya untuk membaca konten dan bertransaksi.

Generasi milenial sangat mahir menggunakan segala bentuk transaksi modern non tunai. Membeli barang, memesan makanan, menggunakan transportasi bahkan menonton film, semuanya dilakukan dengan mudah lewat jaringan internet. Semua itu bisa memberikan dampak positif karena sifatnya yang mudah, efisien dan praktis. Tetapi, dampak positifnya juga tidak dapat dihindari.

Semua hal yang kamu lakukan berasal dari pemakaian gadget yang terlalu sering. Kamu tidak dapat menghindari keinginan membeli sesuatu. Ujungnya kamu melakukan pemborosan dan tidak mengutamakan tabungan masa depan. Lebih bijaklah dalam mengelola penggunaan gadget. Karena sadar atau tidak sering membuka aplikasi belanja, atau cicilan dapat menimbulkan perasaan memaksa membelinya.

Pengaruh Besar Berasal dari Influencer

Faktor penyebab generasi milenial sangat rentan dengan budaya konsumtif adalah akibat pengaruh sebuah komunitas atau lingkungan disekitarnya. Remaja yang masih aktif dalam hal perilaku sangat sulit menjauhi perilaku peer pressure sehingga membuatnya lebih tertekan. Akibatnya, remaja tertarik untuk membeli sesuatu agar mendapat pengakuan dari teman sebayanya.

Pengaruh para influencer menjadi penyebab perubahan berikutnya para milenial. Infuencer memiliki peran besar mendorong keinginan penontonnya memiliki sesuatu tergantung pada konten yang mereka sajikan. Karena banyak sekali milenial yang menggunakan media sosial, sehingga dijadikan para influencer menarik minat penggemarnya. Remaja menilai influencer sebagai tolak ukur dan standarisasi budaya masa kini.

Kita ambil gambaran misalnya saat seorang remaja menonton idolanya sedang memakai sesuatu maka disitulah ia mulai tertarik menirunya. Dengan apa yang digunakan oleh para influencer, maka bisa mendorong penonton ikutan memakai atau membeli. Influencer melakukan kegiatan endorsement menganggap bahwa memasarkan lewat media sosial lebih efektif menjaring generasi milenial.

Baru Pertama Kali Bekerja

Menurut seorang pakar dan pengamat life style, kategori milenial yang sangat rentan membawa budaya konsumtif adalah mereka yang masuk di awal usia 20 an. Lebih tepatnya usia first jobbers atau remaja yang sudah memiliki pendapatan untuk pertama kalinya. Mereka berfikir sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri.

Pada akhirnya, usia muda seperti itu cenderung lebih mengutamakan keinginan dibanding kebutuhan. Hampir sebagian besar pendapatan yang mereka peroleh habis hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri. Banyak yang sepakat bahwa usia first jobbers adalah milenial paling konsumtif dibandingkan usia 30 tahun keatas.

Beda pemikiran beda juga cara bertindak. Usia lebih dari 30 tahun memang lebih matang dalam hal pemikiran. Mereka yang jauh lebih tua dari generasi milenial muda, cenderung hidup dengan mengutamakan kebutuhan. Diusia tersebut mereka lebih banyak menghabiskan hidup dengan berkeluarga, sehingga pengeluaran dapat direncanakan sebaik mungkin.

Tidak Terbiasa Menabung dan Berinvestasi

Sejak dulu kamu diajarkan sebuah ilmu jika ingin kaya harus banyak menabung. Jika kamu ingin mendapat uang lebih maka berinvestasilah. Mungkin orangtua tidak sadar bahwa perilaku konsumtif mereka dapat mempengaruhi pola pikir para milenial. Masih banyak orangtua modern yang memikirkan keinginan membeli sesuatu meskipun masih ada barang lain bisa digunakan.

Secara langsung ini akan mempengaruhi pola anak dalam bertindak dan bersikap khususnya menjauhi budaya konsumtif. Jika kamu termasuk orangtua muda yang masih berfikir ingin memiliki sesuatu, maka mulailah belajar dari dirimu sendiri. Beri contoh yang baik untuk anak-anakmu misalnya mengajarkan mereka perilaku berhemat dan menabung. Ajarkan pula ilmu investasi sederhana.

Banyak pakar sepekat bahwa budaya konsumtif era modern harus kita kelola sebaik mungkin. Boleh memiliki suatu barang tetapi jangan membelinya secara berlebihan. Setiap orang memang memiliki pendapatan dan keinginan masing-masing. Akan tetapi menerapkan budaya sederhana dapat membantu generasi milenial lebih bahagia dan jauh dari stress akibat tidak bisa memenuhi keinginannya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.